5 Hal yang Harus Diketahui tentang Disiplin untuk Anak Umur 1 tahun.
28 October 2018
Disiplin merupakan perilaku yang akan sangat membawa banyak manfaat untuk kehidupan ke depannya. Untuk membentuk perilaku tersebut tidak mudah lho, ma. Dan memang sebaiknya mulai diperkenalkan sedini mungkin. Berikut adalah 5 hal yang harus diketahui dalam menumbuhkan perilaku disiplin pada Si Kecil.

1. Terlalu Kecil Untuk Berdisiplin?
Ini pertanyaan yang sering terpikirkan saat kita mulai ingin menanamkan perlilaku disiplin ini kepada anak. “Anak saya masih umur 1 tahun, terlalu muda tidak ya untuk mengenalkan arti disiplin?” Tidak, ma. Justru ini saat yang tepat untuk memulai pelajaran disiplin mereka. Saat mereka berbuat sesuatu yang kurang baik, sebaiknya jangan dihukum, karena mereka belum bisa mengerti konsep sebab akibat. Disiplin bukan tentang hukuman, tapi lebih ke mengajarkan mana yang boleh dan mana yang tidak.

2. Alihkan Perhatian Mama
Mama harus menahan agar mama tidak lepas kontrol dan emosi pada saat si kecil “bertingkah”, lagian ini kan juga latihan disiplin buat mama, bukan hanya Si kecil. Yang harus mama lakukan adalah, coba dengan tenang alihkan perhatian dari perilaku Si Kecil yang menurut mama kurang baik, dengan aktivitas lainnya. Misalnya Si Kecil, lompat di kasur. Daripada mama marah, lebih baik jangan bereaksi dan langsung ajak Si Kecil melakukan aktivitas lain. Dengan cara ini, mereka akan belajar sendiri bahwa perilaku mereka tidak diterima.

3. Konsisten
Mungkin mama mengira ”ah gak pa apa lah, sekali ini aja” pada saat Si Kecil meminta kue sebelum makan malamnya. Padahal dengan melanggar aturan yang mama buat sendiri, memungkinkan Si Kecil mengulanginya lagi di masa depan. Penting sekali untuk membuat rambu-rambu dan mematuhinya secara konsisten. Ingat ma, pada saat kita ingin mengajarkan arti disiplin kepada Si Kecil, kita pun harus kembali belajar lagi tentang kedisiplinan.

4. Tetap Positip
Berbicara “tidak” secara berulang-ulang, walaupun tujuannya disiplin, kemungkinan akan membuat Si Kecil tidak respek terhadap mama, atau bahkan menggunakan kata “tidak” itu apabila Ia tidak ingin melakukan sesuatu. Simpan perkataan “Tidak” atau “Jangan” hanya untuk hal-hal yang sifatnya membahayakan atau keamanan. Pada saat Si Kecil hedak menyentuh piring yang panas, mungkin bisa dimengerti pada saat mama berkata jangan, karena menyangkut keselamatannya. Tapi apabila, tidak membahayakan, kan kalimatnya bisa dikemas dengan positip misalnya “Masih panas, nak. Tunggu dingin aja dulu”

5. Tunjukkan Caranya
Si Kecil lebih banyak belajar dari perilaku kita sebagai orangtua dibanding apa yang kita katakan ke mereka lho, ma. Melakukan aktivitas yang mama ingin Si Kecil lakukan secara bersama-sama akan lebih efektif dibanding menyuruh saja. Misalnya: daripada menuruh untuk sikat gigi sebelum tidur, lebih baik mama dan Si Kecil melakukannya bersama-sama.